Jumat, 25 November 2011

Orang-orang Ikhlas di Belantara Hutan Sungai Kapuas






Allahu Akbar, Allahu Akbar Azan subuh terdengar merdu. Sejurus kemudian, satu persatu santri bergegas bangun. Mereka mengambil air wudhu di dua drum kecil yang terletak di samping asrama. Di sini tak ada kran air. Setelah itu, mereka beranjak ke mushola di lantai dua di sebuah gedung yang tak berdinding. Angin pun berhembus dari balik pepohonan yang menusuk kulit. Tapi, santri tak menghiraukannya. Dengan agak terkantuk-kantuk, santri yang berusia sekitar 5 hingga 15 tahun ini shalat qabliyah shubuh.

Muhammad Syukur, sang imam duduk di shaf belakang mengawasi santri. Matanya begitu awas mengecek satu persatu santrinya. Ia tampak sangat khawatir bila ada satu saja santrinya yang ghaib. Baginya, itu pelanggaran berat. “Sudah bangun semua, Mush?” tanyanya. “Sudah, ustadz,” jawab Musta’in salah seorang pengasuh. Setelah komplit, Syukur memberi komando: “Aqimish shalah.” Seorang santri lalu berdiri dan iqamat. Shalat subuh berlangsung khusuk.

Usai shalat, Jalil, santri SMP maju ke depan. Kali ini ia giliran membacakan hadist. Karena tak ada listrik, Jalil menggunakan senter kecil. Biasanya, setiap subuh, genset untuk mengaliri listrik hidup, tapi malam tadi tidak. “Habis bensinnya, jadi gelap-gelapan,” tutur seorang santri. Jalil, santri asal Sanggau, Kalimantan Barat ini menyorotkan lampu senternya ke sebuah buku kecil kumpulan hadist. Ia membacakan keutamaan tholabul ilmi.

“Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju surga,” demikian hadist yang dibacakan Jalil. Tampak santri mendengarkan penuh khusuk. Setelah itu, Jalil memimpin zikir al-matsurat dan diteruskan dengan tilawah hingga matahari terbit.

Mereka adalah penghuni Pesantren Hidayatullah Sanggau, Kalimantan Barat. Letaknya sekitar 12 KM atau 30 menit dari pusat Kota Sanggau. Dari Pontianak, bisa mencapai sekitar 6 jam. Cukup jauh memang. Apalagi, ditambah jalan yang sebagian rusak. Pesantren ini terletak di desa Penyeladi, Kecamatan Kapuas.

Boleh dibilang, daerah ini masih terisolir. Selain dilalui Sungai Kapuas, pesantren ini dikelilingi hutan lebat. Di kanan-kiri pesantren, hanya pepohonan dan semak belukar. Bila malam tiba, suara jangkrik dan hewan hutan terdengar bak simfoni merdu. Ditambah lagi hembusan angin yang menusuk kulit. Parahnya lagi, belum ada listrik. Jadi, setiap malam, pesantren mengandalkan genset. Tak ada bensin berarti gelap-gelapan.

Adalah seorang Syukur, lelaki kelahiran Sulawesi Selatan 1974 yang berani melakukan ide “gila” itu. Ia merintisnya sekitar tahun 2009. “Ketika itu saya hanya mendapat tugas membuka Pesantren di Sanggau, Kalbar. Karena ini amanah, ya saya harus jalankan,” terangnya.

Dari Pontianak, Syukur ketika itu hanya bermodal Rp 200 ribu. Uang sebesar itu ludes hanya untuk mengontrak dan biaya hidup beberapa bulan. Selebihnya, ia pun harus berjuang sendiri. “Saya pernah setiap hari hanya makan tempe saja,” kenangnya.

Alhamdulillah, setelah beberapa kali menyosialisasikan niatanya membuat pesantren, masyarakat pun mendukungnya. Bantuan deras mengalir. Akhirnya, Syukur mendapat lahan kosong di pedalaman Kecamatan Kapuas sekitar 3 hektar lebih. “Benar-benar hutan belantara ketika itu,” ujarnya.

Lahan itu masih berupa hutan dan semak belukar. Tak ada apa-apa. Jangankan rumah, gubuk reot pun tak ada. Apalagi makanan, harus mencari sendiri. Tapi, rintangan itu tidak menyiutkan nyali Syukur untuk berjuang. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Itulah filosofi perjuangan Syukur.

Dengan dibantu beberapa santrinya, Ramhat, Mustha’in, dan Yusuf, Syukur mulai membuka hutan. Pertama yang mereka buat adalah gubuk. Ia membuat gubuk dengan dinding daun rumbia dan atap seng. Jika musim hujan, air pun masuk ke dalam dari balik bilik daun rumbia. Setiap hari, Syukur dan santrinya membabat hutan. Ditebanginya pohon dan ditebasnya semak belukar. “Tangan ini sudah kapalan,” ujarnya.

Bila malam tiba, suasana gelap. Gubuk hanya diterangi lampu teplok. Terkadang mati bila tertiup angin kencang. Tapi, mereka tampaknya tak takut gelap, apalagi hantu. “Hantu malah yang takut kita,” selorohnya sedikit bergurau. Hanya ada babi yang setiap malam datang dan menghabisi singkong yang ditanam.

Usai terang, lahan itu dicangkulinya hingga rata. Padahal, kondisinya berbukit-bukit, seperti gundukan kecil. Hanya bermodal cangkul saja, gundukan itu diratakannya. “Setiap kali nyangkul, saya hanya berdoa agar ini menjadi amal shaleh,” harapnya. Setelah rata, barulan dibangun rumah seadanya.

Alhamdulillah, kini telah berdiri tiga bangunan sederhana. Satu untuk santri putri dan satunya lagi yang berlantai dua -dalam proses pembangunan- khusus untuk santri putra. Jumlah santrinya ada tiga puluh orang. Mereka ada yang sekolah SD, SMP, dan SMA. Seluruh biayanya ditanggung pesantren: mulai makan, asrama hingga sekolah. “Santri tinggal belajar saja,” kata Syukur.

Para santrinya kebanyakan berasal dari Kalimantan Barat. Rata-rata dari keluarga tidak mampu dan yatim piatu. Ada juga sebagian yang broken home. Bahkan, hingga kini ada santri yang tak tahu di mana rimba ayahnya.

Tidak hanya itu, beberapa santrinya ada yang mualaf. Orangtuanya yang asli Suku Dayak justru menyuruh anaknya ke pesantren. Kini, mereka menjadi muslim dan belajar Islam. Meski demikian, semangat belajar mereka tinggi. Lihat saja, mereka punya cita-cita yang tinggi. “Setamat Aliyah, saya ingin ke Surabaya, kuliah di sana. Saya mau jadi kiai,” kata Adi, siswa kelas 3 Aliyah di Sanggau.

Padahal, jarak sekolah mereka jauh, lebih dari 3 KM. Jika ada motor, pengasuh akan mengantar mereka satu persatu. Tapi, bila tidak sempat, mereka harus berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya. Padahal, ada yang SD, masih kecil. “Saya pernah jalan kaki dari Pesantren hingga ke sekolah di Sanggau. Entah berapa jam lamanya,” kata Mustha’in yang kini jadi pengasuh.

Setiap hari, selain membina santri, Musthai’n bertugas mengantar santri-santrinya. Selain itu, ia dibantu Rahmat, ustadz asal Purwokerto, Jawa Tengah, bertugas menjual majalah dan menghimpun bantuan dari kota.

“Inilah yang bisa kami perbuat untuk Islam. Kita tak mengharapakn apa-apa, hanya ridha Allah SWT,” terang Syukur.

Syukur berharap, apa yang diperjuangkannya itu, kelak menuai hasil. Paling tidak, dari pesantren itu, akan lahir generasi Islam yang handal. Ia sendiri tak berharap banyak di dunia ini. “Kelak, di akhirat, pesantren inilah yang akan saya hadiahkan kepada Allah. ‘Allah, inilah karya saya,’” ujarnya.*

Rep: Syaiful Anshor
Red: Cholis Akbar

Amal Sholeh, Cara Cerdas Raih Khusnul Khotimah




SIAPA yang tidak ingin hidup bahagia di dunia dan selamat di akhirat? Semua orang pasti mendambakannya. Tak hanya orang beriman saja, bahkan orang tak beragama dan para penjahat-pun, kadang juga memilih mati dalam keadaan baik.

Lihatlah kaos-kaos menyesatkan yang sering digunakan anak-anak muda bertuliskan, “Muda Foya-foya, Tua Kaya-rya, Mati Masuk Surga”. Meski hanya sebatas kaos, sesungguhnya pesan ini telah banyak mempengaruhi jiwa dan pikiran banyak orang, terutama anak-anak muda kita.

Karena itulah, Dr Nurcholis Madjid dalam sebuah forum pernah menanggapi slogan yang sering dijadikan kaos anak-anak muda itu dengan mengatakan, “tak ada yang gratis dalam hidup. Apalagi mau masuk surga.”

Perilaku seperti itu menandakan masih banyak di antara kita yang belum memahami dengan benar arti waktu dan arti hidup yang sebentar ini.

Orang bisa bahagia luar biasa karena kesigapannya mengatur waktu, dan orang bisa menyesal luar biasa karena kelalaiannya terhadap waktu. Jadi, benarlah ungkapan pepatah Arab, bahwa “waktu adalah pedang”.

"L'uomo misura il tempo e il tempo misura l'oumo". Manusia mengukur waktu dan waktu mengukur manusia, “ ujar sebuah pepatah Italia.

Sayangnya tidak setiap Muslim benar-benar mempersiapkan diri dan paham arti hidup.

Sebagian masih sebatas mengetahui kemudian lalai terhadapNya. Sebagian lain tidak lalai namun terkesan apa adanya. Padahal aksioma yang tak terbantahkan suatu saat, entah kapan, kita pasti akan menemui kematian.

Bagi orang yang beriman masih beruntung karena dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah. Tetapi bagi mereka yang kafir dan munafiq, sungguh akhirat adalah tempat yang tak pernah mereka harapkan. Sebab di akhirat mereka tak henti-henti minta ampun dan menyesal sejadi-jadinya karena gagal mengisi waktu di dunia dengan menunaikan amal-amal sholeh.

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِي
وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?"

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. 63: 10 – 11).

Tanda Surga

Untuk mengetahui apakah nanti kita akan masuk surga atau tidak, tentu tidak ada jawaban pastinya. Namun Rasulullah saw memberikan pedoman bagi umat Islam bagaimana cerdas mengelola waktu, sehingga bisa mengenali tanda-tanda seorang Muslim mendapatkan surga.

Satu tanda bahwa seorang Muslim akan masuk surga ialah meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Artinya seorang Muslim meninggal dalam keadaan baik (ibadah kepada Allah).

Bisa dalam keadaan mendirikan sholat, dzikir, menghadiri majlis ilmu, atau dalam kegiatan atau perjalanan yang diridhai Allah dan rasul-Nya.

Sebaliknya ialah su’ul khotimah. Keadaan di mana seorang Muslim meninggal dalam keadaan tidak baik. Seperti; meninggal saat berjudi, berzina, mencuri, kikir, korupsi, atau sedang menjerumuskan diri dalam berbagai bentuk kemaksiatan dan kedholiman.

Dalam sejarahnya, tak satu pun manusia yang bisa mengetahui apakah dirinya bisa mati dalam keadaan khusnul khotimah atau su’ul khotimah. Hal ini tiada lain agar kita, sebagai seorang Muslim, benar-benar waspada dalam pemanfaatan waktu. Jangan sampai terlena oleh gemerlap dunia, sehingga lupa akan akhirat dan kemudian mati dalam keadaan su’ul khotimah.

Prioritaskan Amal Sholeh

Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda, “Orang yang cerdas ialah orang yang menahan hawa nafsunya dan berbuat (amal sholeh) untuk (bekal) kehidupan setelah mati.” (HR. Turmudzi).

Mengapa kriteria orang cerdas dalam Islam seperti itu? Sebab setiap manusia akan menemui kematian. Orang yang paling siap menghadapi kematian dengan memperbanyak amal sholeh jelas orang yang akan bahagia. Dan, siapa orang yang mempersiapkan dirinya untuk meraih kebahagiaan tentu ia adalah orang yang paling beruntung.

Oleh karena itu, al-Qur’an dalam sebuah ayat memberikan satu kriteria lengkap dan jelas bahwa yang dimaksud orang yang berakal (berilmu, cerdas) adalah ulul albab. Yaitu orang yang senantiasa mengisi waktunya dengan dzikir dan fikir agar mendapat keridoan-Nya. (QS. 3: 190 – 191).

Itulah orang yang memiliki keimanan yang kokoh, melakukan perbuatan-perbuatan besar, cerdas (berilmu), dan termasuk orang-orang yang diridhoi oleh Allah untuk meraih kebahagiaan dengan anugerah besar berupa akhlak yang mulia.

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ
إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ
وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ

"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." (QS. As Saad: 45-47).

Dengan demikian jelaslah bagi kita untuk mengerti dengan sebenarnya, apakah kita termasuk orang yang cerdas atau tidak. Jika kita ingin cerdas, maka hendaklah kita mencontoh perilaku para kekasih Allah (Nabi dan Rasul). Yaitu senantiasa menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, beramal sholeh, dan berorientasi terhadap kehidupan akhirat. Itulah perkara besar yang harus diutamakan, bukan yang lain.

Langkah tersebut akan memberikan dampak positif luar biasa, baik ketika di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, yang tidak cerdas akan mengalami penyesalan luar biasa.

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) . Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakratil maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.

Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu’minun: 99 – 100).

Waspadai Akhir yang Buruk

Bagaimana agar kita bisa meninggal dalam keadaan khusnul khotimah? Tentu tidak ada jalan lain selain waspada dan konsisten mengisi sisa umur yang kita miliki untuk kebaikan-kebaikan dunia maupun akhirat.

Dengan kata lain kita tidak boleh terlampau santai menyikapi waktu yang kita miliki apalagi merasa umur masih cukup panjang, sehingga suka meremehkan perbuatan dosa dan bangga berbuat maksiat.

Anas ra, pernah bertutur, "Sesungguhnya, kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang menurut kalian lebih kecil dari rambut. Padahal kami pada zaman rasulullah saw, sudah menganggapnya sebagai dosa yang membinasakan (dosa besar)." (HR. Bukhari).

Apabila hal itu terjadi maka sirnalah fungsi hati seorang Muslim. Ibn Atha’illah dalam sebuah nasehatnya menyatakan bahwa, di antara tanda matinya hati adalah tidak bersedih atas ketaatan yang terlewat dan tidak menyesal atas dosa yang diperbuat.

Oleh karena itu sebagai upaya waspada kita terhadap akhir yang buruk (su’ul khotimah) hendaknya setiap hari kita melakukan evaluasi terhadap keyakinan kita. Apakah keyakinan yang ada di dalam hati ini telah bersih dari titik-titik keraguan. Jika masih ada keraguan segeralah membersihkannya.

Selanjutnya ialah memeriksa tabiat diri. Apakah kita sudah terbebas dari panjang angan-angan dan gemar menyegerakan kebaikan? Sebab satu faktor utama manusia enggan beramal sholeh dikarenakan panjangnya angan-angan. Akibatnya sebagian besar malah suka menunda-nunda untuk taubat dan akhirnya meninggal dalam keadaan yang sangat buruk.

Jadi, mulai sekarang marilah biasakan diri untuk memperkuat iman, meneguhkan hati untuk konsisten beramal sholeh, dan waspada untuk tidak berbuat dosa. Sebab kita tidak pernah tahu kapan ajal menemui kita.

Dengan cara itulah, insya Allah kita akan tergolong manusia yang cerdas menurut nabi dan insya Allah akan meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan mendapat keridoan-Nya, amin. Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi

Keterangan: Sebuah peristiwa yang pernah terjadi di Saudi, seseorang meninggal saat beribadah dan sujud di waktu shalat


Red: Cholis Akbar

Sabtu, 12 November 2011

REVOLUSI KAUM MUSLIM INDONESIAKU (RKMI)


Organisasi RKMI (gerakan REVOLUSI KAUM MUSLIM untuk INDONESIAKU)
Didirikan pada tgl. 11 November 2011 di Bogor.
Oleh : Anton Aribowo (Abdul Wahab).

"TUMBANGKAN SISTEM KUFUR KAPITALISME, TEGAKKAN SYARIAT ISLAM DI INDONESIAKU!"

Berjuang dengan segenap harta, jiwa dan raga untuk menggeser dan menumbangkan sistem Kapitalisme di Negeri Indonesiaku tercinta ini dan menggantikannya dengan sistem negara yang berlandaskan sistem Islam.

BAGI KAMI, TAK SUDI NEGARA YANG MEMILIKI UMMAT MUSLIM TERBESAR DIMUKA BUMI, AKAN TETAPI DIKENDALIKAN DENGAN SISTEM PEMERINTAHAN YANG KUFUR!!!

Allah Swt. telah mewajibkan kaum Muslim untuk menyerukan dan menerapkan syariat Islam secara total. Sebab, Islam adalah sistem kehidupan yang berasal dari Allah Swt, diturunkan untuk seluruh manusia. Tanpa mengenal batas wilayah apalagi kondisi zaman. Hanya dengan Islam, manusia mendapatkan ridhai-Nya. Lihat (QS al-Maidah [5]: 3 dan 48)


Pendaftaran Anggota:
Perum Taman Pagelaran Blok C15/25 Ciomas Bogor 16610.
Hp: 082112 87 5335

Jumat, 21 Oktober 2011

GRATIS WISATA KE LOMBOK


Ikuti quis berhadiah wisata gratis ke Pulau Lombok dan Gili Gili dengan KLIK DISINI.

Jumat, 26 Agustus 2011

Menjadi Manusia Sholeh




Semoga bertambah iman dan kesholehan sebagai manusia dengan bukti nyata ini...
Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. (QS. Faathir : 12)

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. (QS. Al Furqaan : 53)

Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. (QS. An-Naml : 61)

Kisah Sang Profesor Penemu Sungai di Bawah Laut.

TV Discovery Channel:Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin dan pahit di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu membuat Mr. Costeau berpikir keras dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai bingung, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi:
"Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. ."
Artinya: "Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak bisa ditembus."
Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur ' an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur ' an ini mustahil disusun oleh Nabi Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera (di Mexico). Dan Beliau hidup di daerah padang Pasir. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20.
Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur ' an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam!
Subhanallah Walhamdulillah.

Sabtu, 12 Maret 2011

Rafa... Kisah Tragis Bayi Gizi Buruk

Kurang Energi, Tak mampu Cerma Makanan
Dalam dua bulan terakhir, setidaknya tiga balita gizi buruk meninggal dunia. Yang terakhir, Rafa Azzura, yang meninggal Senin malam lalu. Di RSD dr Mohammad Soewandi saja, sejak Januari lalu merawat 47 bayi gizi buruk. Diperkirakan, tahun ini meningkat.


TENDA panjang sekitar lima meter memayungi gang kecil di Jalan Gading Karya, kawasan Kedung Cowek, Kenjeran. Di rumah tepat tenda itu berdiri, beberapa tamu duduk di ruang depan berukuran sekitar 3 x 2 meter. Nyonya rumah, Wempy, dengan raut wajah duka menerima mereka.

“Saya tidak mengira Rafa meninggal. Sebab, kondisinya tampak semakin baik,” kata ibu dua anak kembar itu. Rafa, bayi laki-laki sepuluh bulan tersebut memang lahir kembar. Saudaranya, Raka Attilia, juga menderita gizi buruk.

Ibu 21 tahun itu kemudian bercerita detik-detik akhir hidup Rafa. Pukul 18.00 Senin itu, dia memberikan nutrisi tambahan. Cairan tersebut pemberian RSD dr Mohammad Soewandhie. Tapi, baru menyuapi satu sendok, napas Rafa tersengal-sengal. Makin lama intensitas napasnya makin jarang.

Wempy pun segera memanggil tenaga medis. Alat bantu pernapasan sempat dipasangkan pada bayi itu. Namun, bayi kelahiran 28 Mei 2007 itu tak tertolong. Sekitar pukul 18.30, Rafa mengembuskan napas terakhir. Wempy terkejut. Sebab, dia melihat gerak tubuh Rafa mulai lincah. “Sejak awal ke rumah sakit, Rafa sudah mendapat nutrisi tambahan rutin selain diinfus. Tubuh Rafa mulai tampak gemuk,” katanya.